Jalan Malioboro: Jalan Romantis Khas Daerah Istimewa Yogyakarta

Sewamobildijogja.net – Jogja memang selalu memberi rindu, kota berhati nyaman. Begitulah orang-orang menyebut kota Monarchi ini. Setiap sudutnya selalu memberikan deguban kencang akan takjub pada setiap khas yang muncul.

Secarik rindu pada kota pelajar ini mengembang seketika. Langkah demi langkah menggebu menyusur jalanan yang sangat legend. Malioboro. Begitulah jalan sepanjang 2,5 km terbujur dari Tugu Yogyakarta hingga 0 km Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jalan Malioboro selalu ramai. Bahkan 24 jam tanpa henti jejak kaki maupun kendaraan melangkahi jalanan ini. Disebut juga sebagai salah satu titik garis imajiner. Jalan Malioboro rupanya menghubungkan antara Pantai Parangtritis, Kraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi.

Sejarah jalan romantis ini dikatakan oleh masyarakat berasal dari kata Marlborough. Dia adalah seorang bangsawan Inggris yang pernah tinggal di Yogyakarta sekitar tahun 1881an. Adapun pendapat lainnya jalan ini diambil dari bahasa Saskerta yang memiliki arti ‘karangan bunga’. Pasalnya pada era dahulu, sepanjang jalan ini dipenuhi oleh karangan bunga acap kali Kraton Yogyakarta mengadakan acara atau hajatan.

Keindahan Jalan Malioboro

Selain halnya sejarah penamaan Jalan Malioboro ini, konon dahulu jalan ini sepi dan banyak pohon asam berderet di pinggiran jalan dan hanya dilewati bagi warga yang akan ke Kraton, Benteng Vredeburg, atau Pasar Beringharjo.

Berbeda dari wajah Malioboro pada zaman dahulu dan sejarahnya, jalanan ini nyatanya selalu ramai dan menjadi momok perhatian wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Jalan Malioboro menjadi Shopping Center para turis asing maupun lokal yang datang untuk mencari oleh-oleh khas Yogyakarta.

Beragam karya khas Yogyakarta dijejer dan diperlihatkan sepanjang jalan. Pertokoan di kanan kiri jalan membuat siapapun ingin menghinggapinya satu demi satu. Mulai dari pertoan kaos, batik, hingga makanan. Selain itu, di depan area toko juga berbaris para pedagang kaki lima yang menjajakan kaos oblong, batik, souvenir, pernak-pernik, blangkon, dan jajanan khas Yogyakarta seperti bakpia, yangko dan sebagainya.

Selain memburu aneka oleh-oleh khas Yogyakarta, pengunjung juga bisa mencecapi makanan khas dan kulineran asli Yogyakarta. Gudeg misalnya. Sajian sederhana dari nangka merupakan makanan khas Yogyakarta yang wajib Anda coba ketika berkunjung ke kota ini. Pedagang kaki lima yang menggelar lapak makanannya siap menyuguhkan hidangan khas Jogja di jalan Malioboro ini.

Selain Gudeg, Anda juga bisa menikmati pecel dengan bumbu kacang khas Jawa. Sembari menyantap makanan, di sebelahnya Anda juga bisa memesan aneka minuman dingin selain es the. Ada es dawet yang bisa mengguyur dahaga Anda dengan rasanya yang manis legit gula jawa lagi gurih akan santan yang keduanya berpadu menjadi minuman segar siap minum sembari melepas lelah.

Nikmatnya menyusur jalan Malioboro juga kurang lengkap jika belum bertemu para seniman. Sekelompok pengamen mulai dari pengamen gitar Kentrung hingga Ansamble semua berpadu di jalan ini. Tinggal Anda berduduk manis di sudut mana. Tentunya setiap sudutnya akan memberikan kesan asyik lagi romantis lengkap suasana Jogja.

Pemandangan Wisata Malam Jalan Malioboro

Masih ingin menambah sensasi berkunjung yang berkesan? Anda bisa menjajali delman dan becak jika berjalan di sepanjang jalan depan pertokan membuat Anda lelah.

Delman dengan kuda-kuda tangguh siap mengajak Anda berkeliliing kota. Asyiknya naik delman kalau rombongan. Kalau sendiri mungkin lebih seru naik becak saja. gencat-gencit suara bapak tukang becak mengayuh juga tidak kalah merdu irama tik tak tik tuk suara sepatu kuda. Pengalaman unik siap memburu dengan harga yang masih terjangkau.

Hingga kini jalan Malioboro merupakan bagian penting dari Kraton Yogyakarta. Jalan Malioboro tidak hanya ramai pada saat musim liburan, namun juga acara Kraton seperti kirab budaya dan perayaan tertentu.

Menilik Malioboro ketika Anda berkunjung sebelumnya mungkin masih terlihat banyaknya kendaraan terparkir di kiri jalan depan pertokoan. Namun seiiring dengan perkembangan dan relokasi kota, saat ini Jalan Malioboro memiliki wajah baru yang ramah untuk para pejalan kaki. Sudah tidak ada lagi motor terparkir di depan kios-kios dan berserakan.

Kendaraan pengunjung sudah terparkir rapi di Parkiran Abu Bakar dengan beberapa lantai yang siap menampung ribuan motor. Berkelilinglah dengan jalan kaki. Anggap saja membakar kalori dan olahraga santai sembari melihat-lihat kanan kiri siapa tahu ada yang cocok. Jika lelah beristirahatlah di bangku – bangku romantis yang disediakan. Semabri memotret nuansa Jogja dari dekat.

Menikmati jalan Malioboro juga masih kurnag istimewa jika belum menemukan beberapa lokasi bersejarah yang perlu Anda datangi. Ada Museum Benteng Vredeburg, Monumen Serangan Oemoem 11 Maret, Gedung Putih, dan Pasar Beringahrdjo.

Seharian di Malioboro tidak membuat rugi. Jalan 24 Jam ini silih berganti orang yang datang hingga kendaraan yang lalu lalang. Jika sudah di ujung jalan Malioboro tepatnya di 0km, Anda juga akan menjumpai seniman dengan berbagai tokoh dari tokoh animasi hingga hantu. Selain itu, di Jalan Malioboro akan ada banyak seniman pelukis. Pelukis gambar, sketsa, hingga pelukis tato.

Ingin berada di sudut mana ketika di Jalan Malioboro? Semuanya romantis. Lampu malam yang kuning membuat suasana semakin hangat. Rindu akan jogja semakin mengesankan. Pasti ingin kembali.

This template supports the sidebar's widgets. Add one or use Full Width layout.